Mestinya Doel Mengorganisir Buruh Pabrik Batako Milik Encang Rohim

Pada episode 010 serial Si Doel 2: Anak Sekolahan, ada skena penting untuk kita tonton ulang. Bukan semata-mata karena konflik dalam adegan di sana terasa dekat sekali dengan problem masyarakat kita sebagaimana serial tersebut sejak awal memang diangkat dari realitas sosial, tetapi lebih dari itu.

Episode berjudul “Semuanya Pada Cerita Ke Sidoel” itu menampilkan Si Doel—tokoh utama kita yang diperankan Rano Karno yang juga sebagai penulis skenario sekaligus sutradara serial tersebut—sedang memperjuangkan nasib para pekerja pabrik batako milik Encang Rohim, tempat di mana ia juga bekerja sebagai operator mesin pencetak batako.

Para pekerja terancam PHK lantaran mesin pencetak batako yang baru didatangkan pemilik pabrik—itu pula alasan kenapa Doel yang seorang Insinyur Mesin bekerja di sana—dapat memproduksi batako lebih efisien dibanding proses manual yang biasa mereka lakukan. Dua pekerja bahkan telah dipecat, dan yang lain hanya menunggu waktu seiring rencana Encang Rohim menambah mesin produksi.

Kita bisa menduga, Sang Sutradara ingin menuntun pemirsa pada fenomena global: revolusi industri yang dimulai sejak 1760 di Inggris. Sesuatu yang mungkin belum pernah dipertontonkan secara terang benderang melalui tayangan sinetron dengan jutaan penggemar seperti serial Si Doel ini, di Indonesia, setidaknya pada tahun itu. Sebuah konflik yang tak kalah relevan dibanding kisah asmara terlarang Atun dan Mas Karyo, atau peliknya cinta segitiga Sarah-Doel-Zaenab.

Akan tetapi bayangan bahwa konflik dalam episode 010 akan menjadi yang paling materialistik—hal itu penting bagi pendidikan politik masyarakat—sama sekali tidak terjadi. Episode tersebut menjadi sangat mengecewakan karena telah memilih kekuatan figur individual di samping kekuatan kolektif dalam merespons problem sosial politik.

Tak hanya itu, para pekerja, seperti yang sudah-sudah, juga dicitrakan sebagai kaum yang brutal melalui sebuah adegan ketika mereka berencana merusak mesin yang justru hendak diperbaiki Doel. Dan sebaliknya, tokoh utama kita itu datang sebagai pahlawan: menenangkan para pekerja dan berjanji akan memperjuangkan nasib mereka—sendirian, dan menolak intervensi.

Betapa congkaknya insinyur kita yang satu ini! Ia akan memperjuangkan nasib orang banyak seorang diri karena merasa mempunyai dan oleh karenanya memanfaatkan kuasa lebih: (1) Doel masih sanak dengan Rohim, sebagaimana ia memanggilnya Encang; (2) sebagai insinyur, ia mempunyai posisi tawar karena tenaganya lebih dibutuhkan daripada mereka para pekerja kasar; dan (3) ia juga “dekat” dengan Zaenab, putri Encang Rohim.

Doel (atau Rano Karno?) lupa atau bahkan tidak mengerti sama sekali bahwa akumulasi kapital-lah satu-satunya pertimbangan di dalam corak produksi masyarakat kapitalis. Tidak ada pertimbangan lain, tidak pula dengan ikatan kultural macam keluarga, apalagi kekasih. Ia juga memilih pendekatan yang sebenarnya tak menyentuh akar persoalan, dan pada saat yang sama mengabaikan kekuatan massa.

Terserah penulis skenario dan sutradaranya, dong, mau dialurkan seperti apa ceritanya!

Ya, tentu saja alur cerita dalam episode 010 mengikuti kehendak penulis/sutradara. Tapi, tidak sepenuhnya. Melalui episode 010 ini, penulis/sutradara serial Si Doel, sebagaimana banyak tayangan televisi lain, masih mengikuti apa yang dikehendaki pasar, diskursus dominan, status quo; dan tidak mau mengambil risiko tidak laku, diboikot, atau dilarang, jika menampilkan skena yang sedikit lebih progresif.

Doel (atau Rano Karno?), dalam hal ini, tidak seprogresif yang saya bayangkan sebelumnya. Kenyataannya, Doel memang anak Betawi biasa sebagaimana Rano Karno yang cuma kader PDIP. Kini, sudah tidak ada lagi alasan untuk bertahan menjadi penggemarnya!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *