Masyarakat

Masyarakat adalah sungai
yang tak pernah benar-benar diam.
Di hulunya lahir doa seorang ibu,
di hilirnya tumbuh harapan seorang anak
yang belum mengenal arah angin.

Di antara rumah-rumah sederhana,
ada tawa yang menambal kemiskinan,
ada tangan-tangan yang saling menggenggam
meski kantong tak selalu penuh.
Gotong royong menjadi bahasa
yang tak memerlukan kamus.

Namun masyarakat juga cermin
yang memantulkan wajah kita sendiri.
Di sana ada perbedaan yang sering disalahpahami,
ada keyakinan yang kadang dipertentangkan,
ada pilihan politik yang membelah meja makan,
dan ada luka yang diwariskan
karena kita lebih gemar berbicara
daripada mendengarkan.

Di jalan-jalan kota,
orang-orang bergegas mengejar hari esok.
Di sawah, di laut, di pabrik,
di ruang kelas, di rumah ibadah,
mereka menyusun kehidupan
dengan peluh yang jarang diberitakan.

Masyarakat bukan sekadar kumpulan nama
dalam sensus penduduk,
bukan angka-angka yang berbaris
di laporan pembangunan.
Ia adalah wajah-wajah
yang menunggu keadilan,
suara-suara yang ingin didengar,
dan hati-hati yang berharap
tidak dilupakan.

Kita adalah bagian dari masyarakat itu.
Setiap sapaan yang tulus,
setiap tangan yang menolong,
setiap kejujuran yang dipertahankan,
adalah batu kecil
yang menyusun rumah bernama peradaban.

Sebab masyarakat tidak dibangun
oleh gedung-gedung yang menjulang,
melainkan oleh manusia
yang masih percaya
bahwa perbedaan dapat menjadi persaudaraan,
bahwa keadilan lebih berharga daripada kemenangan,
dan bahwa masa depan
selalu lahir dari kepedulian
yang sederhana.

Maka selama masih ada orang
yang rela mendengar sebelum menghakimi,
berbagi sebelum meminta,
dan merangkul sebelum menjauh,
selama itu pula masyarakat
akan tetap menjadi tempat
di mana harapan pulang,
dan kemanusiaan menemukan rumahnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *