Categories Relasi

Tenang

Suatu hari di pekan perkenalan mahasiswa, saya duduk santai menikmati sebatang tembakau dan secangkir kopi yang diseduh dengan air panas tanpa gula. Suasana saat itu berada di antara dua perasaan yang bertolak belakang: tidak ingin berbuat apa-apa, namun ada semacam kegelisahan halus yang seolah mendorong saya untuk melakukan sesuatu. Di tengah kekosongan pikiran itu, pandangan saya tertuju pada sebuah gantungan kunci berbahan akrilik yang tergantung di tas seseorang, tepat di meja tempat saya duduk. Benda kecil itu tampak sederhana, namun ada sesuatu yang membuatnya berbeda dari gantungan kunci pada umumnya.

Yang menarik perhatian saya bukanlah bentuknya, melainkan sebaris kalimat singkat yang tertulis di permukaannya: “jangan suka marah, kalau anda bukan harimau.” Kalimat itu terasa jenaka sekaligus mengena, seolah menyindir dengan cara yang ringan namun tepat sasaran. Setelah membacanya, saya tak kuasa menahan senyum, lalu spontan berkata kepada teman yang duduk di sebelah saya, “Inilah era Gen Z, watak mereka terukir sangat baik pada mainan kunci ini.” Ucapan itu keluar begitu saja, sebagai bentuk kekaguman sekaligus keheranan atas cara generasi muda mengungkapkan filosofi hidup mereka lewat benda-benda kecil yang tampak remeh, namun sarat makna.

Namun, teman saya tidak sekadar tertawa atau mengiyakan. Ia menjawab dengan nada serius, seolah kalimat pada gantungan kunci itu memantik renungan yang lebih dalam, “Tapi kalau sudah jadi harimau, tidur pun ditakuti orang.” Ia mengucapkannya sambil tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sepenuhnya menunjukkan canda, melainkan menyimpan semacam keyakinan diam-diam. Bersamaan dengan itu, tangan kirinya bergerak perlahan, membentuk pose seolah tembakau di antara jarinya siap untuk dihisap. Gerakan itu terasa seperti penegasan tanpa kata, seakan menutup percakapan dengan sikap tenang namun penuh wibawa, seolah ingin menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak perlu ditunjukkan lewat amarah, melainkan lewat ketenangan yang justru lebih disegani.

Firman Panipahan

seorang penulis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *