Categories Budaya

Berbeza tetapi Berbeda

Ada masa ketika angin muson tidak hanya membawa kapal dagang dan bau garam, tetapi juga nada-nada yang serak dan merana.

Pada suatu masa di mana orang-orang Jawa, Sumatra, hingga pelosok Sulawesi, menghafal bait-bait lagu Suci Dalam Debu atau Gerimis Mengundang; dari seberang Selat Malaka, musik slow rock Malaysia datang bukan sebagai penakluk seperti Aleksander Agung melainkan seperti tamu yang mengetuk pintu malam hari dengan gitar akustik dan suara melengking yang terluka. Kita pernah menyerahkan telinga dan hati kita kepada Amy Search dan Saleem Iklim dengan sukarela. Mengapa? Mungkin karena pada masa itu, dalam bentang politik yang kaku dan kehidupan yang dipaksa tertata terlalu rapi oleh kekuasaan, orang butuh meratap. Dan orang-orang dari negeri jiran tahu betul bagaimana mengolah ratap menjadi sesuatu yang indah, sebuah melankoli yang lugu, tanpa pretensi untuk menjadi rumit.

Lalu kemudian waktu bertukar rupa. Di awal milenium baru, sejarah membalik halaman tanpa permisi. Tiba-tiba, di kedai-kedai kecil di Kuala Lumpur, di radio-radio yang melintasi jalan tol Kelang atau di plaza-plaza di mana siang dan malam terlihat sama, yang terdengar adalah suara Ariel Peterpan yang bergumam tentang Mimpi Yang Sempurna atau musik Sheila On 7 yang liriknya jujur dan canggung seperti surat cinta anak sekolah. Indonesia ganti mengetuk pintu rumah tetangganya, kali ini bukan dengan ratapan melainkan dengan dinamisme sebuah republik yang riuh, agak kacau, tetapi penuh nuansa yang hidup. Ada yang menyebut ini hegemoni kebudayaan, ada yang menyebutnya balasan sejarah; tetapi politik budaya kerap kali terlalu tebal untuk menjelaskan hal-hal yang tipis dan halus seperti selera.

Musik, bagaimanapun, tidak pernah benar-benar peduli pada garis batas negara dan paspor. Ia seperti air yang mencari tempat yang lebih rendah atau udara yang mengisi ruang yang hampa. Ketika musik Malaysia menguasai Indonesia di era 90-an, ia tak membawa pasukan. Ketika musik Indonesia mulai mempengaruhi anak-anak muda di Malaysia di era 2000-an, ia pun tak membawa titah. Keduanya hanya membuktikan satu hal yang kerap kita lupakan: di antara dua bangsa yang sering bertengkar karena soal klaim budaya dan batas wilayah ini, ada sebuah bahasa rahasia yang tak membutuhkan penerjemah; bahwa pada akhirnya, kita hanya dua kerabat tua yang bergantian saling meminjamkan lagu untuk mengobati rasa sepi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *