Aku masih melayang, bersandingkan langit hitam…
Masih melayang
Terus melayangOh…
Ceritakanlah padaku
Apa yang mengeruhkan hidup dan jiwaku…
Tolonglah…
Kau tuntun aku lagi…
Kau tutunkan aku lagi…
Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku
— Hitam oleh Padi Band
Hitam berbeda dengan putih, tentu saja berbeda dengan merah, biru, atau hijau; namun, orang selalu mengasosiasikan dengan sederhana bahwa jika tidak hitam, ya, berarti putih, padahal mungkin saja merah atau putih, layaknya bendera kita. Kebisaan untuk menyederhanakan sesuatu dengan menyandingkan yang sudah menjadi kebiasaannya mungkin untuk memudahkan penggambaran atau penyebutan kata-kata. Di tangan orang yang suka menyuarakan keindahan lewat kata-kata (penyair, pencipta puisi, mungkin juga penulis opini, berita, dll), kata adalah sebuah pilihan yang tentunya harus ditimbang detail penggunaannya, sehingga semua orang (secara umum) dari semua lapisan bisa mengerti apa yang dimaksud. Bahkan, mungkin terkhusus pada yang agak nyeni, kita pun harus berpikir agak nyeni supaya bisa menangkap arti atau pemahaman kata yang ditulis.
Awan, langit, rambut, topeng, topi, domba, ayam, jika ditambahi kata “hitam” di belakangnya, mungkin terdengar biasa; namun, mereka yang suka keindahan kata akan mungkin berbeda “rasa” akan maknanya. Perbedaan itu biasa, seperti orang yang suka kopi manis atau pahit, teh manis atau tawar, atau mungkin orang sekarang sudah mengenal level rasa, seperti pedas level 1 sampai 6, extra gula 1, 2, atau 3 sendok, sehingga kategorisasi yang di awalnya kelihatan sederhana malah berasa banyak, multipilihan, liar, dan bermakna banyak. Itulah kata dalam bahasa yang perlu melihat konteksnya.
Teori kambing hitam dan hasrat mimesis René Girard yang disusun oleh refleksi Sindhunata, mungkin bisa membikin tulisan ini lebih berbobot, lebih dalam, dan lebih meliuk liuk dalam melihat persoalan tersebut, namun tidak akan disukai oleh para penikmat rasa yang dapat dinegoisasikan. Sederhananya, dunia ini sudah banyak diotomatisasi dengan kecerdasan buatan dan asumsi yang berlebihan; supaya dianggap ada kegiatan, ya, harus ada yang dikerjakan, dan salah satu tanda kerja adalah, ya, dibicarakan, meskipun kadang tidak dipikirkan secara mendalam; seperti contoh kata “Londo Ireng”.