Categories Lingkungan

Turet

Ada satu kata yang anehnya tidak pernah pensiun dari percakapan warkop sejak tahun 2017 sampai sekarang, yaitu turet. Setiap kali saya lewat di depan warung kopi langganan, suara itu masih saja terdengar, teriakan setengah panik dan setengah bercanda dari sekumpulan anak muda yang duduk melingkari meja kecil sambil memegang ponsel. “Rek, turete diserang”, “ojo push, turete durung aman”, “kok wani-wanine diving turet gitu ta”. Kalimat-kalimat semacam itu terdengar akrab di telinga saya, sebab dulu saya juga bagian dari barisan suara itu. Sembilan tahun berlalu, orang yang mainnya sudah berganti, tapi kata yang sama masih saja menggema di ruangan yang sama, seolah waktu berhenti di satu titik sementara dunia di luar warkop terus berjalan meninggalkan saya yang sekarang cuma menonton dari kejauhan sambil menyeruput kopi, lalu pulang membawa urusan yang jauh lebih rumit daripada sekadar menjaga garis pertahanan di layar telepon.

Saya berhenti main Mobile Legends bukan karena kalah terus atau bosan pada permainannya, melainkan karena hidup mulai menuntut pertahanan yang jauh lebih nyata. Dulu saya sibuk menjaga turet supaya tidak runtuh diserang musuh. Sekarang saya sibuk menjaga rumah tangga, pekerjaan, dan tanggung jawab yang datang berlapis-lapis, mirip gelombang minion yang tidak pernah berhenti mengalir dari base musuh. Bedanya, di dunia nyata tidak ada tombol recall untuk kembali ke base saat tenaga sudah hampir habis, tidak ada regenerasi otomatis saat lelah, dan tidak ada peta yang menunjukkan di mana masalah sedang bersembunyi menunggu waktu yang tepat untuk muncul. Saya baru sadar bahwa turet dalam permainan itu sebenarnya semacam simulasi kecil dari kehidupan berkeluarga. Sesuatu yang harus terus dijaga, sabar diserang berulang kali, namun tidak boleh dibiarkan runtuh begitu saja, sebab begitu satu lapis pertahanan jatuh, tekanan berikutnya akan datang lebih dekat dan lebih berat dari sebelumnya.

Dari situ saya memetik satu hikmat sederhana yang justru datang dari permainan yang dulu saya anggap sekadar hiburan pengisi waktu luang. Turet tidak pernah menyerang lebih dulu tanpa alasan. Ia hanya merespons ancaman yang mendekat, dan ia mampu bertahan bukan karena kuat sendirian, melainkan karena ada tim yang datang membantu ketika menara itu diserbu dari berbagai arah. Begitu pula rumah tangga dan tanggung jawab hidup, kita tidak akan sanggup bertahan sendirian tanpa dukungan orang-orang terdekat. Menjaga sesuatu yang berharga memang selalu menuntut kesabaran menghadapi serangan yang datang berulang-ulang, bukan sekali lalu selesai. Suara “turet” yang masih terdengar dari warkop sampai hari ini mengingatkan saya bahwa dunia boleh berubah dan generasi boleh berganti, namun prinsip bertahan dan menjaga yang paling penting tetap sama dari dulu sampai sekarang, entah itu menara di dalam permainan, atau menara kehidupan yang saya bangun sendiri bersama keluarga.

Firman Panipahan

seorang penulis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *