Categories Budaya Politik

Utang Realitas Sang Mantan

Pernahkah Anda merasa mual dan lelah secara mental saat melihat seorang tokoh publik berbohong dengan wajah tanpa dosa? Sebagai orang awam, kegelisahan ini bukan sekadar soal merasa ditipu, melainkan alarm kewarasan karena pijakan realitas kita sedang sengaja dikaburkan oleh kekuasaan. Perasaan ini terasa makin relevan ketika kita mengamati fase purnatugas mantan presiden ke-7 republik ini. Begitu perisai pelindung kekuasaannya turun, hantu-hantu masa lalu seolah berlomba menagih utang. Dari perdebatan tiada henti soal keaslian ijazahnya hingga jejak digital yang tanpa ampun menguliti deretan kebohongannya, sang mantan yang dulu dipuja karena citra polosnya kini tampak kehabisan napas diburu oleh bayang-bayangnya sendiri.

Fenomena ini menjadi sangat menarik jika dibedah menggunakan kacamata filsafat. Mengapa kebohongan publik sangat mengganggu? Hannah Arendt mengingatkan bahwa kebenaran faktual itu rapuh; penguasa yang berbohong sebenarnya sedang mencoba menghancurkan realitas untuk diganti dengan narasi ciptaannya. Sementara itu, runtuhnya citra sang mantan sangat sejalan dengan konsep “Simulakra dan Hiperrealitas” dari Jean Baudrillard. Selama bertahun-tahun, publik disuguhi citra artifisial yang dipoles seolah-olah merakyat dan tulus, padahal sosok aslinya mungkin tidak pernah ada. Ketika mesin kekuasaan tak lagi beroperasi untuk mensponsori hiperrealitas tersebut, ilusi itu retak dan publik akhirnya melihat wujud asli di balik topeng pencitraan.

Dari sudut pandang pragmatisme politik Niccolò Machiavelli, seorang pemimpin memang hanya perlu “terlihat” merakyat dan bermoral tanpa harus benar-benar memilikinya. Namun, Machiavelli juga menyiratkan bahwa ilusi semacam itu hanya ampuh selama sang pemimpin masih menggenggam instrumen kekuasaan. Kini, ketika kekuasaan itu kedaluwarsa, sang mantan presiden harus berhadapan dengan panggung di mana rakyat leluasa memeriksa kembali semua kebohongannya. Pada akhirnya, melihat ia dikepung oleh persoalannya sendiri adalah sebuah ironi yang puitis—sebuah pengingat bahwa merawat kegelisahan adalah cara kita menjaga kewarasan, sebab waktu akan selalu menjadi hakim yang paling kejam bagi setiap kepalsuan saat penguasa kembali menjadi manusia biasa.

Firman Panipahan

seorang penulis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *