“Jangan-jangan nanti Kopdes malah saling berebut pembeli.” Kekhawatiran semacam ini cukup masuk akal ketika masyarakat melihat koperasi desa dibangun dalam lokasi yang berdekatan. Bayangkan dua Kopdes berdiri hanya beberapa kilometer dari satu sama lain, menjual sembako yang sama, menyediakan layanan yang serupa, dan mengincar konsumen dari lingkungan yang hampir sama. Kekhawatiran berikutnya pun mudah muncul: siapa yang akan membeli? Apakah pasar desa cukup besar untuk menopang semuanya? Jangan sampai koperasi yang semestinya menjadi penggerak ekonomi justru berubah menjadi pesaing bagi tetangganya sendiri. Pesimisme itu semakin kuat jika Kopdes hanya dipahami sebagai toko baru yang menjual barang yang selama ini sudah tersedia di warung-warung masyarakat. Tetapi persoalannya sebenarnya bukan pada dekat atau jauhnya jarak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah Kopdes-Kopdes tersebut akan berebut kue ekonomi yang sama, atau justru memperbesar kue ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya?
Di sinilah cara pandang terhadap Kopdes perlu diubah. Kopdes bukan sekadar tempat menjual beras, pupuk, gas, atau kebutuhan harian, melainkan dapat menjadi titik pertemuan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat. Kopdes yang satu dapat mengumpulkan hasil pertanian, sementara yang lain memperluas pemasaran; satu menjadi pusat penyedia kebutuhan produksi, yang lain mengembangkan layanan distribusi; bahkan keduanya dapat saling bertukar barang ketika kebutuhan dan potensi wilayahnya berbeda. Jika pola seperti ini terbentuk, kedekatan geografis bukan lagi persoalan, melainkan peluang untuk menciptakan jaringan ekonomi yang lebih rapat. Uang yang dibelanjakan masyarakat tidak berhenti di kas koperasi, tetapi bergerak kepada petani, nelayan, UMKM, pekerja angkutan, pemasok, hingga pelaku usaha kecil lainnya. Semakin banyak mata rantai lokal yang terlibat, semakin panjang pula perjalanan uang sebelum meninggalkan desa. Sebaliknya, jika setiap Kopdes menjual produk yang sama tanpa koordinasi, modal yang besar bisa saja hanya digunakan untuk memperebutkan konsumen yang jumlahnya tetap. Karena itu, yang menentukan masa depan Kopdes bukanlah seberapa jauh jaraknya dari koperasi lain, tetapi seberapa cerdas ia menemukan peran dalam ekosistem ekonomi di sekitarnya.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Mengapa Kopdes dibangun berdekatan?” dan mulai bertanya, “Apa yang bisa terjadi jika keduanya saling menggerakkan?” Dua Kopdes yang berdiri berdekatan dapat menjadi dua pusat ekonomi yang saling berkompetisi, tetapi juga bisa berubah menjadi dua jantung yang membuat aliran ekonomi wilayah semakin deras. Kuncinya terletak pada kemampuan membaca potensi lokal, membagi peran, membangun rantai pasok, dan menghubungkan produksi masyarakat dengan pasar. Pada titik inilah keberhasilan Kopdes tidak lagi layak diukur hanya dari gedung yang berdiri, jumlah transaksi, atau besarnya omzet, tetapi dari berapa banyak kehidupan ekonomi masyarakat yang ikut bergerak karenanya. Sebab koperasi yang hebat bukanlah koperasi yang paling ramai sendirian, melainkan koperasi yang membuat lingkungan di sekitarnya ikut tumbuh. Jika uang terus berputar, usaha kecil menemukan pasar, petani memperoleh kepastian pembeli, dan kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari kekuatan ekonomi sendiri, maka jarak antarkopdes bukanlah masalah. Yang penting bukan seberapa dekat mereka berdiri, tetapi seberapa jauh mereka mampu menggerakkan ekonomi desa.