Sedang Bekerja untuk Mendapatkan Pekerjaan

 “Ada kerjaan sekarang?” Mungkin itu adalah salah satu pertanyaan yang paling ditakuti oleh seorang sarjana yang baru lulus. Lucunya, pertanyaan itu sering muncul justru ketika ia sedang menikmati secangkir kopi di warung langganan. Dari luar, orang hanya melihat seorang anak muda yang setiap hari nongkrong, mengobrol, dan terlihat tidak memiliki kesibukan. Padahal, tidak ada yang benar-benar tahu berapa banyak lamaran kerja yang sudah dikirim, berapa kali wawancara yang gagal, atau berapa malam yang dihabiskan untuk bertanya-tanya, “Apa sebenarnya yang salah denganku?”

 Fenomena ini menjadi gambaran bahwa bekerja dan pekerjaan adalah dua hal yang sering disalahpahami. Banyak orang menganggap seseorang baru benar-benar “bekerja” ketika sudah mengenakan seragam, berangkat pagi, dan pulang sore. Akibatnya, seorang sarjana yang masih mencari pekerjaan sering dicap menganggur, padahal setiap hari ia mungkin sedang memperbaiki CV, mengikuti pelatihan, mengembangkan keterampilan, atau mencari peluang yang lebih sesuai dengan kemampuannya. Ia sedang bekerja untuk mendapatkan pekerjaan.

 Masalahnya, masyarakat sering kali lebih menghargai status pekerjaan daripada proses bekerja itu sendiri. Pertanyaan seperti, “Sekarang kerja di mana?” atau “Kapan dapat kerja?” terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang pertanyaan itu bisa menjadi beban mental. Apalagi ketika teman-teman seangkatannya sudah lebih dulu bekerja, sementara dirinya masih berusaha menemukan jalan. Secangkir kopi yang seharusnya menjadi teman untuk berpikir justru berubah menjadi saksi bisu atas rasa cemas yang sulit dijelaskan.

Secangkir kopi yang seharusnya menjadi teman untuk berpikir justru berubah menjadi saksi bisu atas rasa cemas yang sulit dijelaskan

 Di sisi lain, dunia kerja saat ini memang tidak semudah yang dibayangkan. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah setiap tahun, sedangkan lapangan pekerjaan tidak selalu mampu mengimbanginya. Banyak perusahaan juga menuntut pengalaman kerja, bahkan kepada pelamar yang baru lulus. Akibatnya, muncul sebuah ironi: seseorang membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan pengalaman, tetapi ia juga membutuhkan pengalaman untuk memperoleh pekerjaan.

 Namun, apakah nilai seorang sarjana benar-benar ditentukan oleh seberapa cepat ia mendapatkan pekerjaan? Tentu tidak. Memiliki pekerjaan memang penting, tetapi bukan berarti seseorang yang masih berproses adalah orang yang gagal. Setiap orang memiliki waktu, kesempatan, dan jalan hidup yang berbeda. Ada yang langsung diterima bekerja setelah wisuda, ada yang harus menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sebelum menemukan pekerjaan yang tepat.

 Pada akhirnya, bekerja bukan hanya soal memiliki kartu identitas perusahaan atau menerima gaji setiap akhir bulan. Bekerja juga berarti terus berusaha, belajar, memperbaiki diri, dan tidak menyerah ketika keadaan belum sesuai harapan. Begitu pula dengan pekerjaan, ia bukan sekadar simbol status sosial, melainkan sarana untuk berkarya dan memberikan manfaat. Maka, mungkin pertanyaan yang lebih baik bukan lagi, “Sudah kerja belum?”, melainkan, “Sedang berusaha apa hari ini?” Karena di balik secangkir kopi yang terlihat santai, bisa saja ada seorang sarjana yang sedang berjuang keras membangun masa depannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *