Categories Budaya Energi Perjalanan

Rocku Garing

Rocky Gerung mungkin pada akhirnya hanyalah sebuah perjalanan dari filsuf menuju sofisme. Dahulu ia tampil sebagai intelektual yang menjadikan akal sehat sebagai senjata untuk membongkar kekuasaan. Ia berdiri di luar pagar, menunjuk absurditas dari kejauhan, dan membuat kritik terasa seperti pekerjaan intelektual yang terhormat. Tetapi ketika sang pengkritik akhirnya masuk ke dalam pagar, publik mulai bertanya apakah yang selama ini mereka dengar benar-benar filsafat atau sekadar kepiawaian memainkan kata. Sebab filsuf semestinya tidak menjadi tawanan kursi, sementara sofis justru dikenal karena mampu membuat sesuatu tampak benar melalui kelihaian retorika. Dari sinilah kekecewaan itu bermula. Bukan karena Rocky mengambil jabatan, tetapi karena perjalanan dari luar menuju dalam membuat sebagian orang mempertanyakan kembali seluruh legenda intelektual yang selama ini dibangun.

Yang lebih pahit adalah ketika semua perubahan posisi dapat dijelaskan dengan permainan istilah. Masuk ke lingkaran kekuasaan disebut sebagai cara baru untuk mengawasi kekuasaan. Mendapat kursi disebut tetap kritis. Kedekatan dengan penguasa disebut kesempatan untuk memberikan nasihat. Semuanya terdengar masuk akal selama kita bersedia membiarkan kata-kata menggantikan kenyataan. Padahal filsafat tidak hidup dari kelenturan istilah. Filsafat justru lahir dari keberanian mempertanyakan kenyataan, termasuk ketika kenyataan itu tidak menguntungkan dirinya sendiri. Di titik inilah Rocky menghadapi ujian yang jauh lebih berat daripada sekadar berpidato tentang kekuasaan. Ia harus membuktikan bahwa kursi tidak membuat kritiknya menjadi jinak dan bahwa akses tidak mengubah keberaniannya menjadi sopan santun politik. Sebab ketika kritik mulai nyaman duduk di dalam kekuasaan, publik berhak curiga bahwa yang tersisa mungkin bukan lagi filsafat, melainkan sofisme yang sedang mencari pembenaran.

Maka barangkali inilah akhir paling ironis dari perjalanan Rocky Gerung. Rocky Gerung sudah tidak ada, yang ada hanya Rocku Garing. Dari filsuf menjadi sofis, dari pengganggu kenyamanan kekuasaan menjadi bagian dari ruang yang dahulu ia ganggu, dari suara yang berdiri di luar pagar menjadi suara yang kini harus membuktikan bahwa pagar itu tidak mengubahnya. Dan kalau semua itu akhirnya hanya dapat dipertahankan dengan permainan kata, publik boleh saja tersenyum getir. Sebab seorang filsuf seharusnya tidak perlu memutar kata untuk menjelaskan mengapa ia masih merdeka. Ia cukup menunjukkan keberaniannya ketika kebebasan itu mulai mahal. Jika keberanian tersebut ternyata memiliki harga yang berbeda setelah sebuah kursi tersedia, maka persoalannya bukan lagi apakah Rocky masih seorang filsuf. Pertanyaannya justru lebih sederhana dan lebih menyakitkan, apakah yang selama ini kita anggap sebagai filsafat ternyata hanya sofisme yang dikemas dengan sangat fasih.

Firman Panipahan

seorang penulis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *